Konsumen China Habiskan Milyaran di Pesta Belanja Sehari

Massa pengguna smartphone China mengeluarkan miliaran dolar dalam belanja e-commerce pada hari Sabtu (12/11) saat mereka bergegas untuk membeli barang murah di “Singles Day” – yang disebut sebagai festival belanja online satu hari terbesar di dunia. Juga dikenal sebagai “Double 11” untuk tanggal 11 November. Acara tersebut diluncurkan pada tahun 2009 oleh raksasa e-commerce Alibaba dimulai pada tengah malam dan akhirnya menghancurkan angka penjualan tahun sebelumnya, seperti yang terjadi setiap tahun.

Peningkatan Penjualan yang Dramatis

Delapan belas jam kemudian di acara Singles Day tersebut, pada pukul 6 sore (1000 GMT) pada hari Sabtu, Alibaba mengatakan nilai penjualan kotor yang diproses oleh sistem pembayaran online Alipay mendekati $ 21 miliar – kira-kira setara dengan hasil ekonomi tahunan Honduras atau Afghanistan. Hasil tersebut telah melampaui $ 17,8 miliar yang telah ditukarkan selama 24 jam penuh tahun lalu, yang menandai kenaikan 32 persen dari tahun ke tahun.

Gambaran tahunan ini menunjukkan meningkatnya daya beli konsumen China telah menjadi sangat penting bagi produsen dan pengecer di seluruh negeri, mencatat porsi pesanan tahunan yang signifikan bagi banyak bisnis. Bahkan, saingan Alibaba seperti JD.com juga melaporkan peningkatan bisnis bandar togel sgp cepat. Hal ini menunjukkan jika tingkat bisnis di China benar-benar sangat berpengaruh terhadap pengecer online di dunia.

Kemudian di acara Singles Day tersebut, lima menit setelah tengah malam, Alipay memproses 256.000 transaksi pembayaran per detik, menggandakan tanda yang tinggi tahun lalu, kata Alibaba. Lebih dari 90 persen pesanan Alipay ditempatkan melalui ponsel, mayoritas platform utama e-commerce Alibaba adalah Taobao.com. Memang, lebih dari separuh dari 1,3 miliar orang di China menggunakan smartphone, yang telah menjadi pusat kehidupan sehari-hari, digunakan untuk pesan, belanja, berita dan hiburan, memesan taksi dan makanan, dan melayani sebagai dompet digital untuk berbagai pembelian point-of-sale.

E-Commerce Paling Berharga di Dunia

Alibaba meluncurkan “Singles Day” sebagai jawaban China atas kegiatan pada akhir bulan November di AS “Black Friday” untuk kegiatan berbelanja singkat, serta untuk memanfaatkan kecintaan China akan tawaran yang bagus dan kecanduan nasional yang meningkat terhadap satu klik pembayaran smartphone. Ini adalah strategi yang sangat bagus yang dilakukan Alibaba.

Wajar jika kemudian pertumbuhan besar E-commerce di China telah menempatkan Alibaba yang terdaftar di New York berjajar dengan Amazon sebagai perusahaan e-commerce paling berharga di dunia, sementara juga membuat JD.com sebuah perusahaan Fortune 500 milik Nasdaq. Saham Alibaba dan JD keduanya juga meningkat dua kali lipat tahun ini karena pendapatan melonjak.

Alibaba menginvestasikan banyak uang untuk menciptakan ekosistem pengguna smartphone yang mencakup komputasi awan, kecerdasan buatan, toko otomatis yang menggunakan pengenalan wajah, dan mendorong pasar luar negeri di bawah banyak bos Jack Ma, salah satu orang terkaya di China. Tapi para pemerhati lingkungan menuduh Alibaba dan pelaku e-tailers lainnya memicu budaya konsumsi berlebihan dan pegunungan sampah.

Greenpeace mengatakan kegiatan pasar “Singles Day” tahun lalu saja telah menghasilkan 130.000 ton limbah kemasan – kurang dari 10 persen di antaranya didaur ulang. Hal ini juga sekaligus menyatakan e-commerce sebenarnya lebih berbahaya karena lebih padat karbon daripada belanja batu bata dan mortar. Sehingga, aktivitas “Singles Day” ini disebut sebagai “bencana bagi lingkungan”.

Namun pertumbuhan e-commerce China telah membuktikan keuntungan bagi ratusan kota pedalaman dan desa terdepan, yang sekarang dijuluki “desa Taobao” setelah mengorientasikan kembali ekonomi lokal mereka ke manufaktur untuk pembeli online. Artinya, memang ada sisi positif dan negatifnya yang seharusnya dicari solusinya bersama untuk kehidupan bersama di masa depan yang lebih baik.

See More

Sampai Juli, Penerbitan Sukuk Dana Haji Bisa Tembus Rp. 36,7 Triliun

Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan (DJPPR Kemenkeu) mengatakan bahwa penerbitan SBSN (Surat Berharga Syariah Negara) dalam bentuk SDHI (Sukuk Dana Haji Indonesia) yang mana berasal dari dana haji sampai tanggal 21 Juli 2017 sudah mencapai Rp. 36,7 triliun.

Jokowi dan Sri Mulyani Senada Soal Pengelolaan Dana Haji

Direktur Pembiayaan Syariah Direktorat Pembiayaan Syariah DJPPR Kemenkeu, Suminto, pada hari Senin (31/7) lalu mengatakan, “Penempatan dana haji pada SBSN, outstanding pada saat ini senilai Rp. 36,69 triliun.” Penerbitan dari SDHI sendiri pasalnya sudah dilakukan sejak tanggal 11 April 2011 yakni mempunyai series SDHI-2021A dengan nilai  Rp. 2 triliun dan jatuh tempo pada tanggal 11 April tahun 2021 mendatang.

Sejak tahun tersebut, pemerintah menerbitkan SDHI tiap tahunnya dengan nilai yang kisarannya sebesar Rp. 1 triliun sampai dengan Rp. 3 triliun tiap kali penerbitan. Dan penerbitan SDHI yang paling tinggi tercatat pada tanggal 21 Maret tahun 2012 lalu melalui series SDHI-2022A dengan jumlah mencapai Rp. 3,34 triliun dan jatuh temponya tanggal 21 Maret 2022.

Pengelolaan dana haji sendiri sebenarnya ada beberapa fokus. Salah satunya ke SDHI yang sedang menjadi perbincangan karena belum lama ini Jokowi membentuk Badan Pelaksana Penglola Keuangan Haji (BPKH) guna memastikan penggunaan dana haji tepat guna dan sesuai dengan UU (Undang-Undang) yang berlaku. Jokowi mengatakan, “Sekarang kan sudah ada BPKH (Badan Pengelola Keuangan Haji). Pengelolaan dan penggunaan dari dana haji itu harus mengacu kepada aturan Perundang-Undangan. Dan yang paling penting, jangan bertentangan juga dengan peraturan perundang-undangan yang ada.”

Menurut Jokowi, salah satu pengelolaan dana haji yang tetap sudah sesuai tapi yang bisa memberikan manfaat adalah menempatkannya ke surat utang syariah (sukuk), investasi di bank syariah, proyek infrastruktur, dan bisnis syariah. Sri Mulyani, Menteri Keuangan, juga senada dengan Jokowi. Ia melihat bahwa pengelolaan dana haji bisa diarahkan ke penerbitan instrument SUN (Surat Utang Negara) ataupun SBSN yang berbentuk SDHI.

“Mereka dapat membeli SUN ataupun SBSN dari pemerintah karena dianggap investasi yang paling aman. Jadi hubunagn lembaga dana haji dan pemerintah adalah secara professional. mereka mengelola dana haji yang berasal dari masyarakat dan pemerintah togel singapura sendiri menyediakan instrument,” tutur Sri Mulyani.

Pendapat Lainnya

Kendati demikian, menurut Abdul Malik Haramain, Wakil Ketua Komisi VIII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), ia malahan justru melihat hal ini berlainan. Ia beranggapan bahwa penempatan dana haji ke proyek infrastruktur tidaklah sesuai dengan Pasal 3 Undang Undang Nomor 34 Tahun 2014. Di sana disebutkan bahwa dana haji digunakan untuk: 1) kualitas penyelenggaraan ibadah haji 2) untuk rasionalitas dan juga efisiensi penggunaan biaya pengelolaan ibadah haji dan 3) manfaat bagi kemaslahatan umat Islam.

“Yang dimaksudkan dengan kemahslahatan umat Islam sendiri yaitu kegiatan pelayanan ibadah haji, pendidikan, dan juga dakwah, sosial keagaamaan, kesehatan, pembangunan sarana dan prasarana ibadah dan juga ekonomi umat,” jelas Abdul.

Adapun berdasarkan pada Badan Pelaksana Pengelola Keuangan Haji (BPKH), disebutkan bahwa jumlah dana abadi umat ataupun dana haji sudah mencapai Rp. 95,2 triliun. Hal ini tentu saja menjadi hal yang sangat controversial. Ada yang pro dengan pengelolaan dana haji untuk infrastruktur, ada pula yang kontra dan menolak. Namun Presiden Jokowi dan Menteri Keuangan setuju dengan rencana keuangan dan pengelolaan keuangan yang ada saat ini.

See More